Selasa, 20 April 2010

Hachikō Anjing yang Setia (忠犬ハチ公 ,Chūken Hachikō?)




Lahir 10 November 1923 dari induk bernama Goma-go dan anjing jantan bernama Ōshinai-go, namanya sewaktu kecil adalah Hachi. Pemiliknya adalah keluarga Giichi Saitō dari kota Ōdate, Prefektur Akita. Lewat seorang perantara, Hachi dipungut oleh keluarga Ueno yang ingin memelihara anjing jenis Akita Inu. Ia dimasukkan ke dalam anyaman jerami tempat beras sebelum diangkut dengan kereta api yang berangkat dari Stasiun Ōdate, 14 Januari 1924. Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 jam, Hachi sampai di Stasiun Ueno, Tokyo.


Hachi menjadi anjing peliharaan Profesor Hidesaburō Ueno yang mengajar ilmu pertanian di Universitas Kekaisaran Tokyo. Profesor Ueno waktu itu berusia 53 tahun, sedangkan istrinya, Yae berusia 39 tahun. Profesor Ueno adalah pecinta anjing. Sebelum memelihara Hachi, Profesor Ueno pernah beberapa kali memelihara anjing Akita Inu, namun semuanya tidak berumur panjang. Di rumah keluarga Ueno yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya, Hachi dipelihara bersama dua ekor anjing lain, S dan John. Sekarang, lokasi bekas rumah keluarga Ueno diperkirakan di dekat gedung Tokyo Department Store sekarang.

Ketika Profesor Ueno berangkat bekerja, Hachi selalu mengantar kepergian majikannya di pintu rumah atau dari depan pintu gerbang. Di pagi hari, bersama S dan John, Hachi kadang-kadang mengantar majikannya hingga ke Stasiun Shibuya. Di petang hari, Hachi kembali datang ke stasiun untuk menjemput.

Pada 21 Mei 1925, seusai mengikuti rapat di kampus, Profesor Ueno mendadak meninggal dunia. Hachi terus menunggui majikannya yang tak kunjung pulang, dan tidak mau makan selama 3 hari. Menjelang hari pemakaman Profesor Ueno, upacara tsuya (jaga malam untuk orang meninggal) dilangsungkan pada malam hari 25 Mei 1925. Hachi masih tidak mengerti Profesor Ueno sudah meninggal. Ditemani John dan S, ia pergi juga ke stasiun untuk menjemput majikannya.

Nasib malang ikut menimpa Hachi karena Yae harus meninggalkan rumah almarhum Profesor Ueno. Yae ternyata tidak pernah dinikahi secara resmi. Hachi dan John dititipkan kepada salah seorang kerabat Yae yang memiliki toko kimono di kawasan Nihonbashi. Namun cara Hachi meloncat-loncat menyambut kedatangan pembeli ternyata tidak disukai. Ia kembali dititipkan di rumah seorang kerabat Yae di Asakusa. Kali ini, kehadiran Hachi menimbulkan pertengkaran antara pemiliknya dan tetangga di Asakusa. Akibatnya, Hachi dititipkan ke rumah putri angkat Profesor Ueno di Setayaga. Namun Hachi suka bermain di ladang dan merusak tanaman sayur-sayuran.

Pada musim gugur 1927, Hachi dititipkan di rumah Kikusaburo Kobayashi yang menjadi tukang kebun bagi keluarga Ueno. Rumah keluarga Kobayashi terletak di kawasan Tomigaya yang berdekatan dengan Stasiun Shibuya. Setiap harinya, sekitar jam-jam kepulangan Profesor Ueno, Hachi terlihat menunggu kepulangan majikan di Stasiun Shibuya.

Pada tahun 1932, kisah Hachi menunggu majikan di stasiun mengundang perhatian Hirokichi Saitō dari Asosiasi Pelestarian Anjing Jepang. Prihatin atas perlakuan kasar yang sering dialami Hachi di stasiun, Saitō menulis kisah sedih tentang Hachi. Artikel tersebut dikirimkannya ke harian Tokyo Asahi Shimbun, dan dimuat dengan judul Itoshiya rōken monogatari ("Kisah Anjing Tua yang Tercinta"). Publik Jepang akhirnya mengetahui tentang kesetiaan Hachi yang terus menunggu kepulangan majikan. Setelah Hachi menjadi terkenal, pegawai stasiun, pedagang, dan orang-orang di sekitar Stasiun Shibuya mulai menyayanginya. Sejak itu pula, akhiran kō (sayang) ditambahkan di belakang nama Hachi, dan orang memanggilnya Hachikō.

Sekitar tahun 1933, kenalan Saitō, seorang pematung bernama Teru Andō tersentuh dengan kisah Hachikō. Andō ingin membuat patung Hachikō. Setiap hari, Hachikō dibawa berkunjung ke studio milik Andō untuk berpose sebagai model. Andō berusaha mendahului laki-laki berumur yang mengaku sebagai orang yang dititipi Hachikō. Orang tersebut menjual kartu pos bergambar Hachikō untuk keuntungan pribadi. Pada bulan Januari 1934, Andō selesai menulis proposal untuk mendirikan patung Hachikō, dan proyek pengumpulan dana dimulai. Acara pengumpulan dana diadakan di Gedung Pemuda Jepang (Nihon Seinenkan), 10 Maret 1934. Sekitar tiga ribu penonton hadir untuk melihat Hachikō.

Patung perunggu Hachikō akhirnya selesai dan diletakkan di depan Stasiun Shibuya. Upacara peresmian diadakan pada bulan April 1934, dan disaksikan sendiri oleh Hachikō bersama sekitar 300 hadirin. Andō juga membuat patung lain Hachikō yang sedang bertiarap. Setelah selesai pada 10 Mei 1934, patung tersebut dihadiahkannya kepada Kaisar Hirohito dan Permaisuri Kōjun.

Selepas pukul 06.00 pagi, tanggal 8 Maret 1935, Hachikō, 13 tahun, ditemukan sudah tidak bernyawa di jalan dekat Jembatan Inari, Sungai Shibuya. Tempat tersebut berada di sisi lain Stasiun Shibuya. Hachikō biasanya tidak pernah pergi ke sana. Berdasarkan otopsi diketahui penyebab kematiannya adalah filariasis.
Opset tubuh Hachikō di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Tokyo

Upacara perpisahan dengan Hachikō dihadiri orang banyak di Stasiun Shibuya, termasuk janda almarhum Profesor Ueno, pasangan suami istri tukang kebun Kobayashi, dan penduduk setempat. Biksu dari Myōyū-ji diundang untuk membacakan sutra. Upacara pemakaman Hachikō berlangsung seperti layaknya upacara pemakaman manusia. Hachikō dimakamkan di samping makam Profesor Ueno di Pemakaman Aoyama. Bagian luar tubuh Hachikō diopset, dan hingga kini dipamerkan di Museum Nasional Ilmu Pengetahuan, Ueno, Tokyo.
Patung Hachikō di depan Stasiun Ōdate

Pada 8 Juli 1935, patung Hachikō didirikan di kota kelahiran Hachikō di Ōdate. tepatnya di depan Stasiun Ōdate. Patung tersebut dibuat serupa dengan patung Hachikō di Shibuya. Dua tahun berikutnya (1937), kisah Hachikō dimasukkan ke dalam buku pendidikan moral untuk murid kelas 2 sekolah rakyat di Jepang. Judulnya adalah On o wasureruna (Balas Budi Jangan Dilupakan).

Pada tahun 1944, di tengah berkecamuknya Perang Dunia II, patung perunggu Hachikō ikut dilebur untuk keperluan perang. Patung pengganti yang sekarang berada di Shibuya adalah patung yang selesai dibuat bulan Agustus 1948. Patung tersebut merupakan karya pematung Takeshi Andō, anak laki-laki Teru Andō.

Pintu keluar Stasiun JR Shibuya yang berdekatan dengan patung Hachikō disebut Pintu Keluar Hachikō. Sewaktu didirikan kembali tahun 1948, patung Hachikō diletakkan di bagian tengah halaman stasiun menghadap ke utara. Namun setelah dilakukan proyek perluasan halaman stasiun pada bulan Mei 1989, patung Hachikō dipindah ke tempatnya yang sekarang dan menghadap ke timur.

Film Hachikō Monogatari karya sutradara Seijirō Kōyama mulai diputar di Jepang, Oktober 1987. Pada bulan berikutnya diresmikan patung Hachikō di kota kelahirannya, Ōdate. Monumen peringatan ulang tahun Hachikō ke-80 didirikan 12 Oktober 2003 di lokasi rumah kelahiran Hachikō di Ōdate. Sebuah drama spesial tentang Hachikō ditayangkan jaringan televisi Nippon Television pada tahun 2006. Drama sepanjang dua jam tersebut diberi judul Densetsu no Akitaken Hachi (Legenda Hachi si Anjing Akita). Pada tahun 2009 film Hachiko: A Dog's Story[1] karya sutradara Lasse Hallström mulai diputar dan dibintangi oleh Richard Gere dan Joan Allen.

Selasa, 16 Maret 2010

Happy Luvely 26 at 19th of March 2010

haPPy LuVely 26 my luv at 19th of March 2010

Sabtu, 13 Februari 2010

Sik Asikk



Kalau liat ke langit aku slalu membayangkan awan yang menyerupai dirimu dan awan satunya menyerupai aku saling berkejaran, yah intinya dengan itu aku mengingatmuw




Gambar ini slalu meningatkanku pada benda-benda yang prnah dia miliki, trkadang ada yang berbau tokoh Disney ini terutama tokoh Micky Mouse. Yah, setidaknya ini adalah tokoh kartun yang aku tau sangat dia suka, dari buku saku dan liontin kalung yang dia miliki. Aku jg prnah membayangkan kalau dalam tokoh disney aku berperan sebagai Mickey dan dia berperan jadi Minny, hihihih sooswitt
Heehehe ini yang paling so sweeet, tpi dia kliatan cantik lho....

Sekian sayang.....

Senin, 08 Februari 2010

Ciri-ciri Akan Terjadi Gempa Bumi dan Tsunami


Ada beberapa ciri-ciri yang bisa terlihat jika akan terjadi gempa bumi. Beberapa ciri-ciri tersebut antara lain:

  • Melihat ke langit, kalau di langit kelihatan ada awan yang bentuknya seperti angin tornado atau seperti pohon atau seperti batang, bentuknya berdiri bisa dibilang itu adalah awan gempa yang biasanya muncul sebelum gempa terjadi. Awan yang bentuknya aneh itu terjadi karena adanya gelombang elektromagnetis berkekuatan hebat dari dasar bumi. Sehingga gelombang elektromagnetis tersebut ‘menghisap’ daya listrik di awan, makanya bentuk awannya jadi seperti tersedot kebawah. Gelombang elektromagnetis berkekuatan besar itu sendiri terjadi akibat adanya patahan atau pergeseran lempeng bumi. Tapi belum tentu juga kalau ada awan seperti itu di langit berarti mau ada gempa. Bisa saja memang bentuknya seperti itu
  • Medan/gelombang elektromagnetis di dalam rumah. contohnya : Terdengar suara brebet-brebet pada siaran TV seperti tidak biasanya, Lampu pada mesin fax blinking biarpun sedang tidak transmit data dan hasil kiriman fax nampak teks tulis berantakan, Matikan aliran listrik. Cek apakah lampu neon tetap menyala redup/remang-remang biarpun nggak ada arus listrik. Jika point tersebut terjadi , itu berarti memang sedang ada gelombang elektromagnetis luar biasa yang sedang terjadi tapi kasat mata dan tidak bisa dirasakan manusia.
  • Perhatikan hewan-hewan. Cek apakah hewan-hewan seperti “menghilang”, lari, atau bertingkah laku aneh/gelisah. Insting hewan biasanya tajam dan hewan bisa merasakan gelombang elektromagnetis.

Jika tiga tanda-tanda itu ada atau terlihat dalam waktu bersamaan, segeralah bersiap-siap untuk evakuasi. Tiga tanda tersebut kemungkinan besar menunjukkan kalo memang mau ada gempa berkekuatan besar. Walaupun demikian, adanya awan gempa yang bentuknya aneh itu tetap tidak bisa memastikan kapan gempa terjadi. Oleh karena itu jangan tunggu-tunggu lagi, sebisa mungkin langsung melakukan tindakan penyelamatan diri untuk menghindari hal-hal yang paling buruk.

Jika skala gempanya besar dan episentrumnya terletak di laut, kita harus selalu waspada akan datangnya gelombang tsunami. Tingginya gelombang bisa puluhan meter, bisa juga cuma dua meter. Tapi biarpun cuma 2 meter, gelombangnya tidak main-main. Kekuatannya dahsyat (seperti tidak habis-habis) dan tekanannya bisa mencapai 190 kilogram.
tsunami_NASA_EO
Beberapa tanda akan terjadi gelombang tsunami adalah laut tiba-tiba menyurut dan burung-burung laut terbang dengan kecepatan tinggi ke arah daratan. Jika sudah demikian, langsung selamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi. Tapi kalau tidak sempat lari sementara tsunami sudah di depan mata, jangan berlindung di balik bangunan yang terbuat dari tembok/beton, karena bisa hancur dan malah membahayakan orang yang berlindung. Sebisa mungkin berlindung di balik daerah rimbunan (pohon, tanaman, semak-semak, rawa). Karena kekuatan gelombang jadi terpecah dan tidak memusat kalau membentur semak. (Berbagai Sumber)

Jangan Seperti Katak Ini Yah, Cantik Tapi Beracun


Katak beracun (disebut juga anak panah-racun katak, kodok panah racun ) adalah nama umum dari sekelompok katak dalam keluarga Dendrobatidae yang asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan.Tidak seperti kebanyakan katak, spesies ini aktif pada siang hari dan sering memperlihatkan tubuh berwarna cerah. Walaupun semua dendrobatids liar setidaknya agak beracun, tingkat toksisitas bervariasi dari satu spesies ke yang berikutnya dan dari satu populasi yang lain. Amfibi ini sering disebut "katak panah" karena pribumi Amerindian 'penggunaan mereka sekresi beracun untuk meracuni ujung blowdarts. Pada kenyataannya, lebih dari 175 spesies, hanya tiga telah didokumentasikan sebagai digunakan untuk tujuan ini (curare tanaman yang lebih umum digunakan), dan tak satu pun berasal dari Dendrobates genus, yang paling dicirikan oleh warna yang cemerlang dan pola-pola kompleks anggotanya.

Kebanyakan spesies katak beracun kecil, kadang-kadang kurang dari 1,5 cm (0,59 in) pada orang dewasa panjang, walaupun beberapa yang sampai dengan 6 cm (2,4 inci) panjangnya. Mereka beratnya sekitar 2 gram, tergantung pada ukuran katak.Kebanyakan katak beracun berwarna cerah, menampilkan aposematic pola untuk memperingatkan potensi predator. Pewarnaan cerah mereka berhubungan dengan mereka dan tingkat toksisitas alkaloid.Katak seperti yang dari spesies Dendrobates tingkat tinggi alkaloid, sedangkan spesies yang samar Colostethus berwarna dan tidak beracun. Tidak seperti kebanyakan katak lain, mereka adalah diurnal, bukannya nokturnal atau kusam.

Mereka bertelur di tempat-tempat yang lembab, termasuk pada daun, pada tanaman, antara akar terbuka, dan di tempat lain, dan biarkan kecebong meronta ke punggung mereka segera setelah mereka menetas. Mereka kemudian membawa piggy-backed kecebong ke air, di mana larva tetap sampai metamorfosis.Biasanya air kolam renang, tetapi beberapa spesies menggunakan air berkumpul di bromeliad atau tanaman lain dan beberapa spesies menyediakan makanan, menyediakan kecebong dengan makan telur belum dibuahi.

Racun katak panah adalah endemik untuk lembab, lingkungan tropis Tengah dan Amerika Latin (Amerika Selatan).katak ini umumnya ditemukan di daerah tropis hutan hujan, termasuk di Bolivia, Kosta Rika, Brasil, Kolombia, Ekuador, Venezuela, Suriname, Perancis Guyana, Peru, Panama, Nikaragua dan non-pribumi untuk Hawaii.Dendrobatids cenderung tinggal di atau dekat dengan tanah, dan juga di pohon-pohon sebanyak 10 meter (33 kaki) dari tanah.

Banyak mengeluarkan racun katak panah lipofilik alkaloid toksin melalui kulit. Alkaloid di kulit katak kelenjar racun kimia berfungsi sebagai pertahanan terhadap predasi, dan karena itu mereka dapat aktif bersama potensi predator di siang hari. Sekitar 28 kelas struktural alkaloid yang dikenal dalam racun katak.Saya berpendapat bahwa katak panah tidak mensintesis racun mereka, tetapi menyita bahan-bahan kimia dari mangsa Artropoda item, seperti semut, kelabang dan tungau. Karena itu, tawanan-dibesarkan binatang tidak mengandung kadar racun yang signifikan. Meskipun racun yang digunakan oleh beberapa racun katak panah, ada beberapa predator yang telah mengembangkan kemampuan untuk menahan mereka, termasuk tanah Amazon ular (Liophis Epinephelus).

Bahan kimia yang diekstrak dari kulit tricolor Epipedobates dapat ditampilkan untuk memiliki nilai obat.Salah satu bahan kimia adalah obat penghilang rasa sakit 200 kali sebagai kuat seperti morfin, yang disebut epibatidine, yang sayangnya tidak dapat diterima gastrointestinal menunjukkan efek samping pada manusia.Lendir dari dendrobatids juga menunjukkan janji sebagai relaksan otot, jantung perangsang dan menekan nafsu makan.


From The Poison Dart Frog

Oscar,Kucing Ajaib yang Fenomenal








Seekor kucing bernama Oscar yang tinggal di sebuah panti jompo telah membuat kagum para staf medis yang ada di sana karena telah memprediksi 50 kematian pasien dengan akurat. Ia melakukannya dengan cara menghabiskan waktu bersama pasien di jam-jam terakhir kehidupan mereka.

Dr. David Dosa, seorang geriatrik (dokter spesialis manula) yang juga asisten profesor di Brown University mengatakan bahwa selama lima tahun, Oscar hampir tidak pernah melakukan kekeliruan. Malah seringkali Oscar membuktikan salahnya prediksi staf medis di panti jompo itu mengenai mana pasien yang akan segera meninggal.





Kucing itu, yang sekarang berumur 5 tahun, dikenal sebagai kucing yang tidak suka bersosialisasi. Sewaktu masih kecil, ia diadopsi oleh Panti Jompo Steere House and Rehabilitation Centre di Providence, Rhode Island, yang khusus merawat orang-orang tua yang mengalami dementia dan Alzheimer. Oscar dipelihara dan tumbuh besar di lantai 3 fasilitas itu.

Dr. Dosa pertama kali mempublikasikan kemampuan Oscar pada sebuah artikel di New England Journal of Medicine di tahun 2007. Sejak itu, Oscar telah berhasil memprediksi kematian dalam jumlah yang lebih banyak. Kemampuan ini juga yang membuat para staf medis di panti jompo itu menjadi yakin.


Oscar biasanya berkeliling dari satu ruangan ke ruangan yang lain. Jika merasakan ada pasien yang akan meninggal dalam beberapa jam, ia akan segera menghampirinya, melompat ke sisi tempat tidurnya dan berdiam diri di situ untuk beberapa waktu. Ia tidak pernah melakukan ini untuk pasien yang tidak sekarat.


Jika pintu kamar pasien yang akan meninggal tertutup, Oscar akan menggaruk-garuk pintu minta dibukakan.





Pernah suatu hari, para staf medis memperkirakan seorang pasien akan segera meninggal. Jadi, mereka mengambil Oscar dan menempatkannya di samping tempat tidur sang pasien.

Oscar yang tidak merasakan kematian segera berlari keluar dan duduk di kamar pasien lainnya. Penilaian Oscar ternyata lebih akurat dibanding perawat, pasien kedua yang dihampirinya meninggal pada malam harinya. Sedangkan pasien pertama baru meninggal dua hari setelahnya.

Dr. Dosa dan staf lainnya menjadi sangat yakin dengan penilaian Oscar sehingga mereka akan segera memberitahukan keluarga pasien ketika melihat Oscar melompat ke salah satu tempat tidur pasien dan berbaring di situ.




"Perilaku Oscar menunjukkan bahwa ia tidak sedang iseng. Ia bisa saja keluar ruangan selama dua menit untuk mengambil mainannya, tapi setelah itu, ia akan segera kembali ke samping pasien. Sepertinya ia benar-benar menganggapnya sebagai ritual," Tulis Dr.Dosa.

Panti jompo itu juga memelihara lima kucing lainnya. Namun tidak ada satupun yang menunjukkan perilaku yang sama dengan Oscar.

Dalam bukunya yang berjudul,"Making rounds with Oscar : The extraordinary gift of an ordinary cat", Dr Dosa tidak bisa memberikan penjelasan sains yang solid mengenai perilaku Oscar.



Ia hanya menduga bahwa Oscar memiliki kemampuan seperti anjing, yaitu dapat mencium bau Kanker dan mendeteksi Ketones, sejenis biokimia berbau yang keluar dari sel-sel yang mati.

Nicolas Dodman, seorang pakar perilaku hewan di Tufts University Cummings School of Veterinary Medicine menyarankan untuk mendokumentasi perilaku Oscar lebih mendalam lagi untuk mengetahui apakah ia benar-benar merasakan kematian atau hanya sekedar tertarik dengan selimut hangat yang memang sering diberikan untuk pasien yang sekarat.



Daniel Estep, PhD, seorang ahli perilaku hewan di Littleton, Colorado juga punya pendapat mirip. "Satu hal yang terjadi kepada orang-orang yang sekarat adalah kenyataan bahwa mereka tidak banyak bergerak. Mungkin kucing itu melihat fakta bahwa sang pasien sangat tenang sehingga ia tertarik mendekatinya."

Namun, kebanyakan para ahli hewan lainnya setuju dengan teori bahwa Oscar mencium bau ketones.




Peran Oscar ternyata bukan hanya mengetahui saat kematian pasien. Keluarga pasien yang meninggal seringkali mendapatkan penghiburan karena kehadirannya. Dalam iklan kematian di surat kabar, beberapa keluarga bahkan memberikan rasa terima kasih khusus untuk Oscar.

Dr.Dosa berkata,"Keluarga yang ditinggalkan mengalami penghiburan yang luar biasa karena menyadari Oscar ada disisi orang yang mereka cintai ketika mereka tidak dapat hadir."


Inilah yang membuat Oscar menjadi spesial.

(telegraph.co.uk)

Minggu, 07 Februari 2010

Oreo Boy


Pernah liat iklan oreo? yup, dalam iklan itu diperankan oleh seorang bocah berkepala plontos dan waktu itu iklan ini sempat populer di kalangan kami. Aku kuliah di universitas yang gak beken sama sekali. Disana aku berkenalan dengan satu teman kami yang kami juluki oreo karena mirip dengan bocah pembawa iklan oreo di tivi itu, dan lagi pula menurutku ia cukup tampan dan imut sehingga membuatku iri kepadanya . Nama yang sebenarnya adalah Damayudhi tapi banyak teman-teman kami yang setuju kalo dia dipanggil dengan julukan oreo. Orangnya lucu dan selalu menghibur banyak orang dengan tingkah polahnya yang over dosis. Pertama kami bertemu saat kami sama-sama daftar ulang di kantor registrasi. Kebetulan ia sama dengan ku masuk kuliah melalui jalur khusus di kampus kami. Ia tampak lucu memakai pakaian kemeja garis-garis biru lengan panjang celana hitam dan sepatu sneaker warna putih. Wajahnya cukup polos, ketika aku bertemu muka sambil menunggu antrian. Logat betawinya pun cukup kental saat itu.Tak sengaja aku mendengar pembicaraan dia dengan seseorang yang sama-sama mengantri dengan kami. Ternyata ia berasal dari Depok dan kebetulan satu jurusan denganku lalu tanpa basa-basi lagi aku pun memperkenalkan diri kepadanya, dan ia menyambutnya dengan ramah. Hari itu selain dia, aku pun berkenalan dengan Dedi asal Lampung. Belakangan aku tahu kalau Dedi juga diterima di kampus kami selain melalui jalur khusus juga karena latar belakang dia sebagai atlit daerah. Sejak itu kami bertiga pun berteman cukup akrab hingga menjelang masa orientasi kampus tiba.
Menjelang ajaran baru, tiba saat bagi kami memasuki dunia perkuliahan. Kebiasaan kami jika kuliah belum dimulai atau bahkan jika kuliah kosong, kami sering bermain di halaman kampus. Kebetulan kampus kami memang tidak menyediakan fasilitas yang memadai. Arena bola volley yang seadanya pun kami maksimalkan dengan bermain bola volley demi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu dosen masuk kelas.
Teman kami yang kami juluki oreo ini, benar-benar membuat kami heran bin kagum. Serasa punya energi simpanan ia sangat mahir bermain permainan apa pun yang kebetulan saat itu tersedia di kampus kami. Dari permainan bola volley, basket, badminton, tenis meja, ia lakukan dengan bersemangat tanpa menunjukkan ekspresi lelah di wajahnya. Kami semua sangat menyukai teman kami yang unik ini. Bahkan dia ramah kepada siapa pun yang ia temui. Tak sedikit juga teman cewek di kampus kami yang karena keramahan dia menjadi salah persepsi dan kegeeran. Aku dan oreo selalu pulang bareng karena ia kebetulan kost agak jauh dari kampus serta tidak membawa motor. Sering aku menemaninya menunggu hingga ia mendapatkan bus kota untuk mencapai kostnya. Terkadang kami bercanda, dan ia selalu memanggilku dengan julukan sotoy, tapi entah saat itu aku cuman senyum saja karena aku pun tidak mengerti maksud dari kata itu.
Teman-teman di kampus ku sangat suka bermain bola. Kami juga sangat suka berkumpul dan bermain bola di luar jam-jam kuliah. Kebetulan teman kami yang bernama Dedi ini kost di dekat lapangan bola Klebengan. Sejak itu waktu bermain bola menjadi menu wajib kami di samping waktu kuliah di kampus. Bahkan saking gilanya kami dengan bola hingga tak sedikit pun ada waktu yang terlewat. Jika kami kuliah siang pun kami luangkan waktu pagi hari untuk bermain bola. Terkadang kami juga menantang jurusan lain untuk bermain bola dengan kami hingga kami pun sepakat untuk membuat kaos bola bagi angkatan kami.
Dari sekian banyak teman kami, si oreo yang paling banyak mendulang gool ke gawang lawan membuat kami selalu bersemangat menggiring si kulit bundar. Hari berlalu dan ujian akhir semester pun tiba. Ku tengok jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, namun si oreo tak nampak juga batang hidungnya. Dua, tiga, hari, berlalu hingga tak terasa waktu ujian pun berakhir namun si oreo tetap tak juga masuk ujian. Belakangan aku dengar dari Dedi kalo teman kami oreo jatuh sakit dan tak sadarkan diri di rumah sakit Panti Rapih. Aku terdiam beberapa saat, lalu dalam hati aku pun berucap, mungkin ini yang dulu ia pernah ucapkan dengan agak berseloroh benar- benar terjadi, kalau umurnya sebenarnya tidak panjang lagi. Ia pernah bilang kalau ia menderita kangker otak akut stadium tiga sehingga dokter memvonis usianya hanya tinggal hitungan hari. Sungguh kami semua tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Malam sehari sebelum malam kejadian ia jatuh tak sadarkan diri, kami beramai-ramai nongkrong dan tertawa seperti tidak terjadi apa-apa di kostnya. Ia pun tampak sumringah tak ada pertanda bahwa akan terjadi hal seperti ini. Pada malam kejadian teman kostnya menemukan si oreo tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Tanpa berpikir lama teman kostnya ini langsung melarikan oreo ke rumah sakit. Rupanya ia terbaring koma cukup lama hingga ujian semester kami berakhir. Malam keenam oreo terbaring di rumah sakit, aku kebetulan sedang berada di kostku. Saat itu aku begitu lelah setelah menyelesaikan ujian terakhir kami di kampus hingga tak terasa aku tertidur. Dalam mimpi aku bertemu dengan oreo tampak sedang mengenakan pakaian yang bagus, dengan senyum yang lebar ia berkata kepadaku kalau ia ingin pulang namun ia tidak bilang ketika kutanya mau kemana. Tapi dari sinar mukanya tampak bahagia dan kulihat cahaya putih secara perlahan samar-samar menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kemudian tubuhnya lenyap berganti dengan aroma bunga yang sangat wangi dan samar-samar aku mendengar bunyi lagu soundtrack film mohabbetein yang aku masih ingat kalau dia sangat suka sekali menyayikan dan mendengarkan lagu berbau india yang saat itu aku setel sebagai nada dering handphone ku yang entah kapan pernah aku minta darinya. Lama kelamaan bunyi itu terasa semakin keras membuatku tak tahan dan segera beranjak bangun. Rupanya temanku dedy yang kebetulan selalu menunggu oreo di rumah sakit menelpon dan memberitahu yang membuat sekujur tubuhku seketika dingin kaku dan hening. Temanku oreo telah berpulang semalam pukul 22.00 tepat ketika aku sedang tertidur lelap. Seluruh jurusan berduka, sosok yang ceria dan energik itu kini telah dipanggil yang maha kuasa. Teman satu angkatan di kampus seketika diam membisu serasa tak percaya serasa kami baru kemarin saja bermain bola bermain, bercanda, tertawa. Kami rindu senyummu kawan, kami rindu semangatmu, kami kagum di tengah penyakit yang menggerogoti badanmu ternyata kamu telah memberi inspirasi dan semangat pada kami tentang perjuangan menghadapi hidup, bahwa hidup adalah harus diperjuangkan tanpa harus menyerah pada kekalahan. Selamat tinggal teman baikku selamat jalan oreo boy.

Kamis, 28 Januari 2010

Sentai dari Masa ke Masa


Serial Super Sentai (スーパー戦隊シリーズ ,Sūpā Sentai Shirīzu atau Super Sentai Series) adalah judul kolektif untuk semua serial tokusatsu produksi Toei Company Ltd., TV Asahi dan Bandai yang memunculkan berbagai jenis sentai. Pertama kali mengudara di stasiun televisi Jepang pada tahun 1975, serial Super Sentai merupakan salah satu tokutsasu yang paling dikenal selain Serial Ultra, Serial Kamen Rider, Serial Metal Hero dan Power Rangers di Amerika Serikat. Meski demikian, Super Sentai tak hanya sekadar serial televisi, melainkan telah menjadi fenomena multimedia internasional dengan berbagai produk, seperti: film, manga, permainan video, pertunjukan aksi hidup di atas panggung, dan iklan.
Hingga saat ini sudah ada kurang lebih 33 serial TV dengan 1650 episode Super Sentai. Deri sekian banyak yang paling laris adalah Himitsu Sentai Goranger, dan Samurai Sentai Shinkenger. Serial ini masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an dan diputar di Indosiar dan RCTI.

Sabtu, 23 Januari 2010

Doa Nenek Penjual Lupis



Seperti hari-hari biasanya aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kawan sebayaku di sekitar tempat aku tinggal dan kebetulan satu sekolah denganku, mungkin heran dengan perilakuku mengapa aku lebih memilih untuk berjalan kaki daripada naik angkot (baca:angkutan kota) ke sekolah. Aku berangkat lebih pagi jauh sebelum anak-anak yang lain bersiap berangkat menuju ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah tidak begitu jauh, jika menggunakan angkot maka tidak akan lebih dari lima menit, namun aku lebih suka memilih untuk jalan kaki menuju ke sekolah yang rata-rata setiap harinya aku tempuh dalam waktu setengah jam untuk tiba di sekolah. Orang tuaku bukannya tidak sanggup untuk memberi ongkos tiap hari aku ke sekolah, akan tetapi tekadku sudah bulat dan aku berjanji dalam hati kecilku kalau nanti setelah masuk SMA aku akan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.Bagiku berjalan kaki disamping sehat bagi badan juga sebagai sarana untuk memacu diri agar ada motivasi untuk pergi ke sekolah. Perjuangan untuk menuju ke sekolah memotivasi diriku agar tidak main-main dalam rangka menuntut ilmu di sekolah agar semua yang kulakukan nantinya tidak sia-sia.

Sepanjang perjalanan yang kulihat bukan rumah yang berdiri kokoh nan anggun maupun bangunan perkantoran, akan tetapi padang rumput serta hamparan sawah yang terlihat lebih mirip permadani, membuat siapa pun yang memandang akan rela untuk merebahkan badannya di atas permadani hijau nan semu itu. Jalan yang kulalui pun bukan jalan beraspal yang keras dan bebas lumpur, melainkan jalan tanah bercampur kerikil yang jika musim hujan tiba jalan tersebut tak segan-segan memerosokkan kaki siapa pun kedalamnya jika tidak berhati-hati dalam berjalan.

Suasana pagi itu begitu menetramkan jiwa. Bunyi burung gelatik serta murai batu yang berloncatan di ranting kecil pohon mahoni saling berkejaran dengan lawan jenisnya dan bergantian berkicau dengan riuhnya menimbulkan melodi alam yang merdu mengiringi sang surya terbangun dari paribahannya. Aku agak mempercepat langkah kaki ku berharap tepat waktu tiba di sekolah. Tak jauh dari pandangan mataku, nampak agak samar sosok yang tak asing lagi bagiku dengan langkah letih agak terhuyung-huyung. Wajah tua renta itu begitu mengibakan seperti tak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang sedang disunggingnya saat itu. Ternyata benar yang aku duga, wajah itu begitu familiar denganku, ia adalah nenek penjual lupis yang hendak pergi untuk menjajakan dagangannya ke pasar. Aku memang sering berpapasan dengan nenek itu saat dalam perjalanan menuju ke sekolah. Setiap pagi wajahnya selalu bersemangat, tampak dari raut mukanya yang cerah penuh perjuangan walau beban di punggung itu begitu berat dan tak terbayangkan olehku. Terkadang aku menyapanya jika tanpa sengaja bertemu muka dengan nenek itu, kutaksir umurnya sudah 80an lebih.

Tapi pagi itu sungguh lain dari biasanya, air muka nenek itu begitu pucat dan tiba-tiba saja gendongannya terlepas dari jaritnya. Masih untung barang bawaannya tidak apa-apa karena tubuhnya yang renta berhasil meraih barang bawaannya kembali sebelum nyaris jatuh ke tanah walau dengan susah payah ia lakukan. Aku pun bergegas mendekati tempat nenek itu bersimpuh, sambil gemetar tangan nenek itu berusaha meraih jarit agar bisa mengangkat kembali gendongannya, dan secepat itu pula tanganku meraih barang bawaannya serta membantu nenek itu mengangkat kembali gendongannya ke tempatnya semula. Aku sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati kecil ku, mengapa nenek serenta ini masih mau berjualan sendirian ke pasar padahal memperhatikan usia nenek itu semestinya ia beristirahat saja di rumah, tak perlu bersusah payah mengangkat gendongan berat itu sendirian. Mengapa bukan anak-anaknya saja atau cucunya saja yang melakukan pekerjaan itu pikirku dalam hati. Tanpa sengaja terlontar juga pertanyaan itu kepada nenek penjual lupis itu. Sungguh di luar dugaan, seketika aku terhenyak, terdiam entah karena iba atau kasihan, ternyata nenek ini hidup sebatang kara tanpa sanak atau pun famili. Hidup begitu keras, terkadang penghargaan terhadap sesuatu baru muncul begitu kita dihadapkan pada kenyataan hidup yang bukan lagi merupakan himbauan atau pun anjuran baik itu dari ulama atau pun ustad. Aku sempat beberapa detik terdiam. Pikirku selama hidup aku menganggap hidupku biasa-biasa saja jauh dari apa yang orang bayangkan hidup nyaman maupun mewah, ternyata hari ini aku menemukan orang yang hidupnya jauh lebih susah dariku dan baru pertama ini aku menyaksikan kebesaran Allah nampakkan dihadapanku. Nenek ini adalah satu dari berjuta manusia yang mempunyai nasib yang di mata orang lain hidupnya tidak beruntung, tanpa orang lain tahu atau bahkan yang menganggap keberadaannya itu ada. Selepas aku membantu nenek itu mengangkat gendongannya ke punggungnya wajah nenek itu nampak berbinar, aku pun langsung dapat menangkap isyarat dari wajahnya itu. Tiba-tiba tanpa aku duga nenek itu bertanya kepadaku dengan suara rendah, “nak pasti bukan dari daerah sini, darimana asalmu nak?” Lalu aku menjelaskan kalau aku sering berjalan kaki melewati desanya menuju ke sekolah mengingat desa yang aku lewati merupakan jalan satu-satu nya jika aku hendak berjalan kaki menuju ke sekolah. Desa itu sangat minim pembangunan bahkan bisa dikatakan sangat terbelakang jika dibandingkan dengan desa lainnya. Aku pun berpamitan kepada nenek itu dengan alasan hendak melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. Nenek itu pun paham, tanpa berlama-lama ia pun mengucapkan banyak terimakasih kepadaku karena telah membantunya. Bahkan tanpa aku sangka-sangka ia pun berpesan kepadaku, “Nenek tidak punya apa-apa untuk bisa membalas kebaikan nak ini, nenek hanya bisa berpesan mudah-mudahan nak bisa tercapai apa yang dicita-citakan, lalu tanpa sadar mulutku nyeletuk: “doain saya ya mbah supaya bisa diterima di UGM”, secara spontan kata-kata itu aku ucapkan, aku lalu teringat pesan dari guru agamaku di SMP pernah berkata bahwa doa bisa dikabulkan entah dari siapa pun datangnya jadi banyak-banyak lah meminta didoakan terutama dari orang yang bersih hatinya disamping doa untuk dirinya sendiri dan tetap berikhtiar. Nenek ini aku pikir adalah orang yang bersih hatinya jadi aku pun dengan ringan meminta doa kepadanya, lalu entah siapa yang lebih dahulu berkata, nenek itu lalu mengamini serta mendoakan: “semoga tercapai apa yang nak inginkan”. Selepas itu sambil melangkahkan kaki ku, aku pun bergegas mempercepat langkah ku agar tidak terlambat ke sekolah. Dalam hati masih terngiang jelas ucapan nenek itu mengamini permintaan doaku tadi, lama aku berpikir, memang sangat sulit bagiku yang punya otak pas-pasan bisa diterima di UGM yang semula adalah kemustahilan”, tapi jika Allah SWT berkehendak segalanya pasti tidak ada yang tidak mungkin, dalam batinku menghibur diri. (bus/indro)


Note: didedikasikan untuk nenek penjual lupis n meluv, “tetap semangat yah Nek”