Sabtu, 23 Januari 2010

Doa Nenek Penjual Lupis



Seperti hari-hari biasanya aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kawan sebayaku di sekitar tempat aku tinggal dan kebetulan satu sekolah denganku, mungkin heran dengan perilakuku mengapa aku lebih memilih untuk berjalan kaki daripada naik angkot (baca:angkutan kota) ke sekolah. Aku berangkat lebih pagi jauh sebelum anak-anak yang lain bersiap berangkat menuju ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah tidak begitu jauh, jika menggunakan angkot maka tidak akan lebih dari lima menit, namun aku lebih suka memilih untuk jalan kaki menuju ke sekolah yang rata-rata setiap harinya aku tempuh dalam waktu setengah jam untuk tiba di sekolah. Orang tuaku bukannya tidak sanggup untuk memberi ongkos tiap hari aku ke sekolah, akan tetapi tekadku sudah bulat dan aku berjanji dalam hati kecilku kalau nanti setelah masuk SMA aku akan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.Bagiku berjalan kaki disamping sehat bagi badan juga sebagai sarana untuk memacu diri agar ada motivasi untuk pergi ke sekolah. Perjuangan untuk menuju ke sekolah memotivasi diriku agar tidak main-main dalam rangka menuntut ilmu di sekolah agar semua yang kulakukan nantinya tidak sia-sia.

Sepanjang perjalanan yang kulihat bukan rumah yang berdiri kokoh nan anggun maupun bangunan perkantoran, akan tetapi padang rumput serta hamparan sawah yang terlihat lebih mirip permadani, membuat siapa pun yang memandang akan rela untuk merebahkan badannya di atas permadani hijau nan semu itu. Jalan yang kulalui pun bukan jalan beraspal yang keras dan bebas lumpur, melainkan jalan tanah bercampur kerikil yang jika musim hujan tiba jalan tersebut tak segan-segan memerosokkan kaki siapa pun kedalamnya jika tidak berhati-hati dalam berjalan.

Suasana pagi itu begitu menetramkan jiwa. Bunyi burung gelatik serta murai batu yang berloncatan di ranting kecil pohon mahoni saling berkejaran dengan lawan jenisnya dan bergantian berkicau dengan riuhnya menimbulkan melodi alam yang merdu mengiringi sang surya terbangun dari paribahannya. Aku agak mempercepat langkah kaki ku berharap tepat waktu tiba di sekolah. Tak jauh dari pandangan mataku, nampak agak samar sosok yang tak asing lagi bagiku dengan langkah letih agak terhuyung-huyung. Wajah tua renta itu begitu mengibakan seperti tak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang sedang disunggingnya saat itu. Ternyata benar yang aku duga, wajah itu begitu familiar denganku, ia adalah nenek penjual lupis yang hendak pergi untuk menjajakan dagangannya ke pasar. Aku memang sering berpapasan dengan nenek itu saat dalam perjalanan menuju ke sekolah. Setiap pagi wajahnya selalu bersemangat, tampak dari raut mukanya yang cerah penuh perjuangan walau beban di punggung itu begitu berat dan tak terbayangkan olehku. Terkadang aku menyapanya jika tanpa sengaja bertemu muka dengan nenek itu, kutaksir umurnya sudah 80an lebih.

Tapi pagi itu sungguh lain dari biasanya, air muka nenek itu begitu pucat dan tiba-tiba saja gendongannya terlepas dari jaritnya. Masih untung barang bawaannya tidak apa-apa karena tubuhnya yang renta berhasil meraih barang bawaannya kembali sebelum nyaris jatuh ke tanah walau dengan susah payah ia lakukan. Aku pun bergegas mendekati tempat nenek itu bersimpuh, sambil gemetar tangan nenek itu berusaha meraih jarit agar bisa mengangkat kembali gendongannya, dan secepat itu pula tanganku meraih barang bawaannya serta membantu nenek itu mengangkat kembali gendongannya ke tempatnya semula. Aku sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati kecil ku, mengapa nenek serenta ini masih mau berjualan sendirian ke pasar padahal memperhatikan usia nenek itu semestinya ia beristirahat saja di rumah, tak perlu bersusah payah mengangkat gendongan berat itu sendirian. Mengapa bukan anak-anaknya saja atau cucunya saja yang melakukan pekerjaan itu pikirku dalam hati. Tanpa sengaja terlontar juga pertanyaan itu kepada nenek penjual lupis itu. Sungguh di luar dugaan, seketika aku terhenyak, terdiam entah karena iba atau kasihan, ternyata nenek ini hidup sebatang kara tanpa sanak atau pun famili. Hidup begitu keras, terkadang penghargaan terhadap sesuatu baru muncul begitu kita dihadapkan pada kenyataan hidup yang bukan lagi merupakan himbauan atau pun anjuran baik itu dari ulama atau pun ustad. Aku sempat beberapa detik terdiam. Pikirku selama hidup aku menganggap hidupku biasa-biasa saja jauh dari apa yang orang bayangkan hidup nyaman maupun mewah, ternyata hari ini aku menemukan orang yang hidupnya jauh lebih susah dariku dan baru pertama ini aku menyaksikan kebesaran Allah nampakkan dihadapanku. Nenek ini adalah satu dari berjuta manusia yang mempunyai nasib yang di mata orang lain hidupnya tidak beruntung, tanpa orang lain tahu atau bahkan yang menganggap keberadaannya itu ada. Selepas aku membantu nenek itu mengangkat gendongannya ke punggungnya wajah nenek itu nampak berbinar, aku pun langsung dapat menangkap isyarat dari wajahnya itu. Tiba-tiba tanpa aku duga nenek itu bertanya kepadaku dengan suara rendah, “nak pasti bukan dari daerah sini, darimana asalmu nak?” Lalu aku menjelaskan kalau aku sering berjalan kaki melewati desanya menuju ke sekolah mengingat desa yang aku lewati merupakan jalan satu-satu nya jika aku hendak berjalan kaki menuju ke sekolah. Desa itu sangat minim pembangunan bahkan bisa dikatakan sangat terbelakang jika dibandingkan dengan desa lainnya. Aku pun berpamitan kepada nenek itu dengan alasan hendak melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. Nenek itu pun paham, tanpa berlama-lama ia pun mengucapkan banyak terimakasih kepadaku karena telah membantunya. Bahkan tanpa aku sangka-sangka ia pun berpesan kepadaku, “Nenek tidak punya apa-apa untuk bisa membalas kebaikan nak ini, nenek hanya bisa berpesan mudah-mudahan nak bisa tercapai apa yang dicita-citakan, lalu tanpa sadar mulutku nyeletuk: “doain saya ya mbah supaya bisa diterima di UGM”, secara spontan kata-kata itu aku ucapkan, aku lalu teringat pesan dari guru agamaku di SMP pernah berkata bahwa doa bisa dikabulkan entah dari siapa pun datangnya jadi banyak-banyak lah meminta didoakan terutama dari orang yang bersih hatinya disamping doa untuk dirinya sendiri dan tetap berikhtiar. Nenek ini aku pikir adalah orang yang bersih hatinya jadi aku pun dengan ringan meminta doa kepadanya, lalu entah siapa yang lebih dahulu berkata, nenek itu lalu mengamini serta mendoakan: “semoga tercapai apa yang nak inginkan”. Selepas itu sambil melangkahkan kaki ku, aku pun bergegas mempercepat langkah ku agar tidak terlambat ke sekolah. Dalam hati masih terngiang jelas ucapan nenek itu mengamini permintaan doaku tadi, lama aku berpikir, memang sangat sulit bagiku yang punya otak pas-pasan bisa diterima di UGM yang semula adalah kemustahilan”, tapi jika Allah SWT berkehendak segalanya pasti tidak ada yang tidak mungkin, dalam batinku menghibur diri. (bus/indro)


Note: didedikasikan untuk nenek penjual lupis n meluv, “tetap semangat yah Nek”

1 komentar:

  1. Alhamdulillah.. meskipun di atas langit masih ada langit, tetapi di bawah tanah masih ada tanah..di situlah Allah mengajarkan tentang berapa beruntungnya kita..

    Oh ya Meskipun aku tidak berjualan lupis,aku jg berharap yang sama dengan nenek itu.. smoga apa2 yg dicita2kan terkabul,amin

    BalasHapus