Minggu, 07 Februari 2010

Oreo Boy


Pernah liat iklan oreo? yup, dalam iklan itu diperankan oleh seorang bocah berkepala plontos dan waktu itu iklan ini sempat populer di kalangan kami. Aku kuliah di universitas yang gak beken sama sekali. Disana aku berkenalan dengan satu teman kami yang kami juluki oreo karena mirip dengan bocah pembawa iklan oreo di tivi itu, dan lagi pula menurutku ia cukup tampan dan imut sehingga membuatku iri kepadanya . Nama yang sebenarnya adalah Damayudhi tapi banyak teman-teman kami yang setuju kalo dia dipanggil dengan julukan oreo. Orangnya lucu dan selalu menghibur banyak orang dengan tingkah polahnya yang over dosis. Pertama kami bertemu saat kami sama-sama daftar ulang di kantor registrasi. Kebetulan ia sama dengan ku masuk kuliah melalui jalur khusus di kampus kami. Ia tampak lucu memakai pakaian kemeja garis-garis biru lengan panjang celana hitam dan sepatu sneaker warna putih. Wajahnya cukup polos, ketika aku bertemu muka sambil menunggu antrian. Logat betawinya pun cukup kental saat itu.Tak sengaja aku mendengar pembicaraan dia dengan seseorang yang sama-sama mengantri dengan kami. Ternyata ia berasal dari Depok dan kebetulan satu jurusan denganku lalu tanpa basa-basi lagi aku pun memperkenalkan diri kepadanya, dan ia menyambutnya dengan ramah. Hari itu selain dia, aku pun berkenalan dengan Dedi asal Lampung. Belakangan aku tahu kalau Dedi juga diterima di kampus kami selain melalui jalur khusus juga karena latar belakang dia sebagai atlit daerah. Sejak itu kami bertiga pun berteman cukup akrab hingga menjelang masa orientasi kampus tiba.
Menjelang ajaran baru, tiba saat bagi kami memasuki dunia perkuliahan. Kebiasaan kami jika kuliah belum dimulai atau bahkan jika kuliah kosong, kami sering bermain di halaman kampus. Kebetulan kampus kami memang tidak menyediakan fasilitas yang memadai. Arena bola volley yang seadanya pun kami maksimalkan dengan bermain bola volley demi untuk mengisi waktu luang sambil menunggu dosen masuk kelas.
Teman kami yang kami juluki oreo ini, benar-benar membuat kami heran bin kagum. Serasa punya energi simpanan ia sangat mahir bermain permainan apa pun yang kebetulan saat itu tersedia di kampus kami. Dari permainan bola volley, basket, badminton, tenis meja, ia lakukan dengan bersemangat tanpa menunjukkan ekspresi lelah di wajahnya. Kami semua sangat menyukai teman kami yang unik ini. Bahkan dia ramah kepada siapa pun yang ia temui. Tak sedikit juga teman cewek di kampus kami yang karena keramahan dia menjadi salah persepsi dan kegeeran. Aku dan oreo selalu pulang bareng karena ia kebetulan kost agak jauh dari kampus serta tidak membawa motor. Sering aku menemaninya menunggu hingga ia mendapatkan bus kota untuk mencapai kostnya. Terkadang kami bercanda, dan ia selalu memanggilku dengan julukan sotoy, tapi entah saat itu aku cuman senyum saja karena aku pun tidak mengerti maksud dari kata itu.
Teman-teman di kampus ku sangat suka bermain bola. Kami juga sangat suka berkumpul dan bermain bola di luar jam-jam kuliah. Kebetulan teman kami yang bernama Dedi ini kost di dekat lapangan bola Klebengan. Sejak itu waktu bermain bola menjadi menu wajib kami di samping waktu kuliah di kampus. Bahkan saking gilanya kami dengan bola hingga tak sedikit pun ada waktu yang terlewat. Jika kami kuliah siang pun kami luangkan waktu pagi hari untuk bermain bola. Terkadang kami juga menantang jurusan lain untuk bermain bola dengan kami hingga kami pun sepakat untuk membuat kaos bola bagi angkatan kami.
Dari sekian banyak teman kami, si oreo yang paling banyak mendulang gool ke gawang lawan membuat kami selalu bersemangat menggiring si kulit bundar. Hari berlalu dan ujian akhir semester pun tiba. Ku tengok jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih lima belas menit, namun si oreo tak nampak juga batang hidungnya. Dua, tiga, hari, berlalu hingga tak terasa waktu ujian pun berakhir namun si oreo tetap tak juga masuk ujian. Belakangan aku dengar dari Dedi kalo teman kami oreo jatuh sakit dan tak sadarkan diri di rumah sakit Panti Rapih. Aku terdiam beberapa saat, lalu dalam hati aku pun berucap, mungkin ini yang dulu ia pernah ucapkan dengan agak berseloroh benar- benar terjadi, kalau umurnya sebenarnya tidak panjang lagi. Ia pernah bilang kalau ia menderita kangker otak akut stadium tiga sehingga dokter memvonis usianya hanya tinggal hitungan hari. Sungguh kami semua tak pernah menyangka akan terjadi seperti ini. Malam sehari sebelum malam kejadian ia jatuh tak sadarkan diri, kami beramai-ramai nongkrong dan tertawa seperti tidak terjadi apa-apa di kostnya. Ia pun tampak sumringah tak ada pertanda bahwa akan terjadi hal seperti ini. Pada malam kejadian teman kostnya menemukan si oreo tak sadarkan diri di lantai kamarnya. Tanpa berpikir lama teman kostnya ini langsung melarikan oreo ke rumah sakit. Rupanya ia terbaring koma cukup lama hingga ujian semester kami berakhir. Malam keenam oreo terbaring di rumah sakit, aku kebetulan sedang berada di kostku. Saat itu aku begitu lelah setelah menyelesaikan ujian terakhir kami di kampus hingga tak terasa aku tertidur. Dalam mimpi aku bertemu dengan oreo tampak sedang mengenakan pakaian yang bagus, dengan senyum yang lebar ia berkata kepadaku kalau ia ingin pulang namun ia tidak bilang ketika kutanya mau kemana. Tapi dari sinar mukanya tampak bahagia dan kulihat cahaya putih secara perlahan samar-samar menyelimuti seluruh tubuhnya hingga kemudian tubuhnya lenyap berganti dengan aroma bunga yang sangat wangi dan samar-samar aku mendengar bunyi lagu soundtrack film mohabbetein yang aku masih ingat kalau dia sangat suka sekali menyayikan dan mendengarkan lagu berbau india yang saat itu aku setel sebagai nada dering handphone ku yang entah kapan pernah aku minta darinya. Lama kelamaan bunyi itu terasa semakin keras membuatku tak tahan dan segera beranjak bangun. Rupanya temanku dedy yang kebetulan selalu menunggu oreo di rumah sakit menelpon dan memberitahu yang membuat sekujur tubuhku seketika dingin kaku dan hening. Temanku oreo telah berpulang semalam pukul 22.00 tepat ketika aku sedang tertidur lelap. Seluruh jurusan berduka, sosok yang ceria dan energik itu kini telah dipanggil yang maha kuasa. Teman satu angkatan di kampus seketika diam membisu serasa tak percaya serasa kami baru kemarin saja bermain bola bermain, bercanda, tertawa. Kami rindu senyummu kawan, kami rindu semangatmu, kami kagum di tengah penyakit yang menggerogoti badanmu ternyata kamu telah memberi inspirasi dan semangat pada kami tentang perjuangan menghadapi hidup, bahwa hidup adalah harus diperjuangkan tanpa harus menyerah pada kekalahan. Selamat tinggal teman baikku selamat jalan oreo boy.

1 komentar:

  1. Sayang ya aku blum sempat knal dgn oreo
    Smga ia tnang disana

    Smoga semangatnya menular... smangat!!!

    BalasHapus