Kamis, 28 Januari 2010

Sentai dari Masa ke Masa


Serial Super Sentai (スーパー戦隊シリーズ ,Sūpā Sentai Shirīzu atau Super Sentai Series) adalah judul kolektif untuk semua serial tokusatsu produksi Toei Company Ltd., TV Asahi dan Bandai yang memunculkan berbagai jenis sentai. Pertama kali mengudara di stasiun televisi Jepang pada tahun 1975, serial Super Sentai merupakan salah satu tokutsasu yang paling dikenal selain Serial Ultra, Serial Kamen Rider, Serial Metal Hero dan Power Rangers di Amerika Serikat. Meski demikian, Super Sentai tak hanya sekadar serial televisi, melainkan telah menjadi fenomena multimedia internasional dengan berbagai produk, seperti: film, manga, permainan video, pertunjukan aksi hidup di atas panggung, dan iklan.
Hingga saat ini sudah ada kurang lebih 33 serial TV dengan 1650 episode Super Sentai. Deri sekian banyak yang paling laris adalah Himitsu Sentai Goranger, dan Samurai Sentai Shinkenger. Serial ini masuk ke Indonesia pada tahun 1990-an dan diputar di Indosiar dan RCTI.

Sabtu, 23 Januari 2010

Doa Nenek Penjual Lupis



Seperti hari-hari biasanya aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Kawan sebayaku di sekitar tempat aku tinggal dan kebetulan satu sekolah denganku, mungkin heran dengan perilakuku mengapa aku lebih memilih untuk berjalan kaki daripada naik angkot (baca:angkutan kota) ke sekolah. Aku berangkat lebih pagi jauh sebelum anak-anak yang lain bersiap berangkat menuju ke sekolah. Jarak dari rumahku ke sekolah tidak begitu jauh, jika menggunakan angkot maka tidak akan lebih dari lima menit, namun aku lebih suka memilih untuk jalan kaki menuju ke sekolah yang rata-rata setiap harinya aku tempuh dalam waktu setengah jam untuk tiba di sekolah. Orang tuaku bukannya tidak sanggup untuk memberi ongkos tiap hari aku ke sekolah, akan tetapi tekadku sudah bulat dan aku berjanji dalam hati kecilku kalau nanti setelah masuk SMA aku akan berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki.Bagiku berjalan kaki disamping sehat bagi badan juga sebagai sarana untuk memacu diri agar ada motivasi untuk pergi ke sekolah. Perjuangan untuk menuju ke sekolah memotivasi diriku agar tidak main-main dalam rangka menuntut ilmu di sekolah agar semua yang kulakukan nantinya tidak sia-sia.

Sepanjang perjalanan yang kulihat bukan rumah yang berdiri kokoh nan anggun maupun bangunan perkantoran, akan tetapi padang rumput serta hamparan sawah yang terlihat lebih mirip permadani, membuat siapa pun yang memandang akan rela untuk merebahkan badannya di atas permadani hijau nan semu itu. Jalan yang kulalui pun bukan jalan beraspal yang keras dan bebas lumpur, melainkan jalan tanah bercampur kerikil yang jika musim hujan tiba jalan tersebut tak segan-segan memerosokkan kaki siapa pun kedalamnya jika tidak berhati-hati dalam berjalan.

Suasana pagi itu begitu menetramkan jiwa. Bunyi burung gelatik serta murai batu yang berloncatan di ranting kecil pohon mahoni saling berkejaran dengan lawan jenisnya dan bergantian berkicau dengan riuhnya menimbulkan melodi alam yang merdu mengiringi sang surya terbangun dari paribahannya. Aku agak mempercepat langkah kaki ku berharap tepat waktu tiba di sekolah. Tak jauh dari pandangan mataku, nampak agak samar sosok yang tak asing lagi bagiku dengan langkah letih agak terhuyung-huyung. Wajah tua renta itu begitu mengibakan seperti tak kuat lagi untuk menyangga beban berat yang sedang disunggingnya saat itu. Ternyata benar yang aku duga, wajah itu begitu familiar denganku, ia adalah nenek penjual lupis yang hendak pergi untuk menjajakan dagangannya ke pasar. Aku memang sering berpapasan dengan nenek itu saat dalam perjalanan menuju ke sekolah. Setiap pagi wajahnya selalu bersemangat, tampak dari raut mukanya yang cerah penuh perjuangan walau beban di punggung itu begitu berat dan tak terbayangkan olehku. Terkadang aku menyapanya jika tanpa sengaja bertemu muka dengan nenek itu, kutaksir umurnya sudah 80an lebih.

Tapi pagi itu sungguh lain dari biasanya, air muka nenek itu begitu pucat dan tiba-tiba saja gendongannya terlepas dari jaritnya. Masih untung barang bawaannya tidak apa-apa karena tubuhnya yang renta berhasil meraih barang bawaannya kembali sebelum nyaris jatuh ke tanah walau dengan susah payah ia lakukan. Aku pun bergegas mendekati tempat nenek itu bersimpuh, sambil gemetar tangan nenek itu berusaha meraih jarit agar bisa mengangkat kembali gendongannya, dan secepat itu pula tanganku meraih barang bawaannya serta membantu nenek itu mengangkat kembali gendongannya ke tempatnya semula. Aku sedikit heran dan bertanya-tanya dalam hati kecil ku, mengapa nenek serenta ini masih mau berjualan sendirian ke pasar padahal memperhatikan usia nenek itu semestinya ia beristirahat saja di rumah, tak perlu bersusah payah mengangkat gendongan berat itu sendirian. Mengapa bukan anak-anaknya saja atau cucunya saja yang melakukan pekerjaan itu pikirku dalam hati. Tanpa sengaja terlontar juga pertanyaan itu kepada nenek penjual lupis itu. Sungguh di luar dugaan, seketika aku terhenyak, terdiam entah karena iba atau kasihan, ternyata nenek ini hidup sebatang kara tanpa sanak atau pun famili. Hidup begitu keras, terkadang penghargaan terhadap sesuatu baru muncul begitu kita dihadapkan pada kenyataan hidup yang bukan lagi merupakan himbauan atau pun anjuran baik itu dari ulama atau pun ustad. Aku sempat beberapa detik terdiam. Pikirku selama hidup aku menganggap hidupku biasa-biasa saja jauh dari apa yang orang bayangkan hidup nyaman maupun mewah, ternyata hari ini aku menemukan orang yang hidupnya jauh lebih susah dariku dan baru pertama ini aku menyaksikan kebesaran Allah nampakkan dihadapanku. Nenek ini adalah satu dari berjuta manusia yang mempunyai nasib yang di mata orang lain hidupnya tidak beruntung, tanpa orang lain tahu atau bahkan yang menganggap keberadaannya itu ada. Selepas aku membantu nenek itu mengangkat gendongannya ke punggungnya wajah nenek itu nampak berbinar, aku pun langsung dapat menangkap isyarat dari wajahnya itu. Tiba-tiba tanpa aku duga nenek itu bertanya kepadaku dengan suara rendah, “nak pasti bukan dari daerah sini, darimana asalmu nak?” Lalu aku menjelaskan kalau aku sering berjalan kaki melewati desanya menuju ke sekolah mengingat desa yang aku lewati merupakan jalan satu-satu nya jika aku hendak berjalan kaki menuju ke sekolah. Desa itu sangat minim pembangunan bahkan bisa dikatakan sangat terbelakang jika dibandingkan dengan desa lainnya. Aku pun berpamitan kepada nenek itu dengan alasan hendak melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. Nenek itu pun paham, tanpa berlama-lama ia pun mengucapkan banyak terimakasih kepadaku karena telah membantunya. Bahkan tanpa aku sangka-sangka ia pun berpesan kepadaku, “Nenek tidak punya apa-apa untuk bisa membalas kebaikan nak ini, nenek hanya bisa berpesan mudah-mudahan nak bisa tercapai apa yang dicita-citakan, lalu tanpa sadar mulutku nyeletuk: “doain saya ya mbah supaya bisa diterima di UGM”, secara spontan kata-kata itu aku ucapkan, aku lalu teringat pesan dari guru agamaku di SMP pernah berkata bahwa doa bisa dikabulkan entah dari siapa pun datangnya jadi banyak-banyak lah meminta didoakan terutama dari orang yang bersih hatinya disamping doa untuk dirinya sendiri dan tetap berikhtiar. Nenek ini aku pikir adalah orang yang bersih hatinya jadi aku pun dengan ringan meminta doa kepadanya, lalu entah siapa yang lebih dahulu berkata, nenek itu lalu mengamini serta mendoakan: “semoga tercapai apa yang nak inginkan”. Selepas itu sambil melangkahkan kaki ku, aku pun bergegas mempercepat langkah ku agar tidak terlambat ke sekolah. Dalam hati masih terngiang jelas ucapan nenek itu mengamini permintaan doaku tadi, lama aku berpikir, memang sangat sulit bagiku yang punya otak pas-pasan bisa diterima di UGM yang semula adalah kemustahilan”, tapi jika Allah SWT berkehendak segalanya pasti tidak ada yang tidak mungkin, dalam batinku menghibur diri. (bus/indro)


Note: didedikasikan untuk nenek penjual lupis n meluv, “tetap semangat yah Nek”

Rabu, 20 Januari 2010

Asal Usul Ulat Sutra (sebuah pengetahuan)


Selama berabad-abad yang lalu bangsa Cina mengembangkan kain sutra dari negeri asalnya Tiongkok. Oleh sebab itu, tembok cina yang megah pun juga pernah menjadi jalur perdagangan sutra. Sebuah kisah yang telah diceritakan selama berabad-abad dari mulut ke mulut tentang penemuan benang sutra yang didapat dari ulat sutra, bahwa sutra pertama kali ditemukan oleh Ratu Xi Ling-Shi ribuan tahun lalu. Ceritanya, suatu hari ketika Ratu Xi Ling-Shi sedang bertamasya, ia menemukan kepompong ulat sutra. Karena penasaran, kepompong itu pun disentuh dengan jarinya. Ia pun mencoba menarik selembar benang yang keluar dari kepompong itu. Dan, sungguh menakjubkan, semakin ia tarik benangnya semakin panjang hingga menutupi dan membalut jarinya. Ratu pun berhenti menarik benang karena tangannya terasa panas. Ketika benang itu habis, ratu melihat kepompong kecil. Akhirnya dia menyadari bahwa kepompong itu merupakan sumber benang yang kemudian disebut benang sutra. Ratu pun lalu bercerita kepada semua orang sehingga penemuan ini dikenal secara luas. Benang tersebut kemudian dipintal dan dijadikan kain yang ternyata memiliki kualitas bagus. Selain sangat halus, kain sutra juga sangat lembut hingga banyak orang yang suka. Jadi, jangan heran jika harga kain sutra cukup mahal.

New Reincarnated (Pendekar Ulat Sutra)


Masih ingat dalam ingatan saya film-film laga atau silat seperti Pendekar Harum, Pendekar Pemanah Rajawali, Return of The Condors Heroes, Pendekar Negri Taili / Thien Lung Ba Bu,Flying Fox Of The Snowy Mountain / Rase Terbang, serta masih banyak lagi secara bergantian menghiasi layar kaca salah satu stasiun televisi nasional. Namun dari kesemuanya itu ada satu film silat juga yang membuat saya terkesan yakni film New Reincarnated atau kalau di Indonesia kita kenal dengan nama Pendekar Ulat Sutra, kesemuanya sangat menginspirasi saya untuk membuat blog ini. Walaupun judul blog yang saya buat mengambil nama yang sama dengan nama film Pendekar Ulat Sutra tapi secara filosofi, ulat sutra memberikan pelajaran bagi kita tentang sebuah proses untuk menjadi sempurna. Kemudian kata “pendekar” merupakan sebuah gambaran bahwa sebuah proses menuju kesempurnaan itu tidak datang dengan sendiri tanpa kita berbuat sesuatu. Kesempurnaan diraih melalui sebuah proses perjuangan melewati bermacam rintangan untuk meraihnya. Oleh karenanya walaupun tidak semua perjuangan digambarkan dengan adu fisik atau olah kanuragan layaknya pendekar sejati, perjuangan untuk mempertahankan hidup melawan bermacam rintangan sejatinya merupakan gambaran pendekar di kehidupan nyata. Bahwa perjuangan mempertahankan hidup di dunia nyata juga membutuhkan keahlian layaknya keahlian jurus maupun olah kanuragan. Seperti perjuangan seekor kupu-kupu sebelum ia keluar dari kepompongnya, alangkah berat perjuangan untuk bisa lepas dari hambatan pembungkus kulit kepompong yang hanya menyisakan lubang kecil untuk bisa keluar dari sana. Blog ini mengakomodasi semua hal di sekitar kita: melihat, merasakan, serta merespon kejadian di sekitar kita menjadi pelajaran berharga dalam hidup.

Methamorphosis



Suatu ketia ada seseorang yang menemukan kepompong kupu-kupu sudah bersiap melepaskan diri dari pembungkus atau kepompongnya. Orang itu kemudian duduk dan mengamati selama beberapa jam kupu-kupu dalam kepompong itu ketika kupu-kupu tersebut berjuang memaksa dirinya keluar melewati lubang yang sangat kecil di ujung kulit yang membungkus dirinya. Kemudian sang kupu-kupu berhenti membuat kemajuan. Kelihatannya dia telah berusaha semampunya dan dia tidak bisa lebih jauh lagi.

Akhirnya orang tersebut memutuskan untuk membantunya. Dia ambil sebuah gunting lalu memotong sisa kekangan dari kepompong itu. Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh yang gembung dan kecil, serta sayap-sayap yang mengerut. Orang tersebut terus mengamatinya, karena dia berharap bahwa pada suatu saat, sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menopang tubuhnya. Sayang, semuanya tak pernah terjadi.

Lama orang itu mengamati perkembangan kupu-kupu itu tapi pada kenyataannya, apa yang diharapkan orang itu tidak seperti yang ia bayangkan. Kupu-kupu itu menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dangan tubuh gembung dan sayap-sayap mengerut. Dia tidak pernah bisa terbang. Yang tidak dimengerti dari kebaikan dan ketergesaan orang tersebut adalah bahwa kepompong yang menghambat serta perjuangan yang dibutuhkan kupu-kupu untuk melewati lubang tersebut adalah cara Tuhan untuk memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya. Sedemikian sehingga dia akan siap terbang begitu dia memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang, perjuangan adalah yang kita perlukan dalam hidup kita. Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa hambatan, itu mungkin malah melumpuhkan kita. Kita mungkin tidak sekuat yang semestinya kita mampu. Kita mungkin tidak pernah dapat terbang.